POEMS

ENCLOSURE

Yogyakarta selalu membawaku kembali padamu, dengan rangkaian cerita pahit yang selalu ku anggap manis karna itu tentang kamu. Kita selalu berasumsi tentang hati yang tak pernah kita miliki
namun sebenarnya.. hatiku milikmu, hatimu milikku, saat itu.
Dulu, aku selalu suka berada disampingmu.Namun tadi, saat kita bertemu, aku tidak suka itu Aku tidak suka karna aku takut itu akan jadipertemuan terakhirku denganmu, aku ingin selalu bertemu. Seperti dulu.

15:06 pm”Apa kabar?”
Mungkin kamu tidak suka denganpertemuan yang telah aku rencanakan tadi,maaf, aku telah mengungkit masa lalu yang telahsusah payah kita kubur dalam-dalam. Aku dengan lancang memberanikan diri untuk menanyakanhal yang mungkin sudah tidak ada artinya untukmu.Tentang keegoisan yang dulu kita bangun sama-sama
di atas cinta yang pernah kita pupuk.Tidak ada yang berani bicara dan menjelaskan terlebih dahulu
setelah pertengkaran hebat itu.Saat itu kita lebih mencintai diri sendiri dari pada “kita”.Kita terlalu angkuh untuk memperjuangkan “aku” dan “kamu” menjadi “kita”.Kita terlalu larut dalam asumsi yang tak pernah nyata.Kita aku terlalu cinta untuk menjadi lupa.

Kau bilang aku menghilang, namun sebenarnya
aku tak pernah pergi kemana pun,
aku masih menetap di ruang yang sama.
Ruang yang aku bangun dan aku desain di setiap sisinya bersabdakan namamu.

Tidakkah kau sadar selama ini kita sama?
sama-sama menunggu
sama-sama mengharap
sama-sama menyakiti
sama-sama mencintai
Aku terlalu sibuk membenahi diri untuk menjadi hebat di matamu,
namun aku lupa, kalau ternyata cinta juga mengenal waktu. Keberanian ini terlalu lama memenuhi temu,
hingga akhirnya yang nyata menjadi semu, cintamu. Aku juga lupa perihal cinta tak mengenal teori. Cinta tak perlu pemerannya menjadi hebat, cinta hanya perlu kejujuran, bukti, pernyataan. Bahkan aku lupa kalau cinta butuh aku dan kamu bersatu (saat itu).
Suhu tubuhku mendadak susut, bulu kudukku terasa ingin rontok, air mukaku berubah pucat Jantungku berdentum hebat, bibirku kelu tak berucap
(Aku menatap matamu)
Minggu, 24 Maret 2019. Yogyakarta, Ekologi Cafè.

Mungkin aku kecewa ketika kau bilang tidak saat ku berdalih: “Bisa kita ulang semuanya dari awal? “Setidaknya kini aku tahu, kehadiran cinta darimu yang aku rasakan selama ini benar adanya.
 Setidaknya kini aku tahu, kalau kamu berbohong saat itu, kau cinta padaku!
Setidaknya aku tahu.


Terima kasih untuk (pernah) mencintai orang biasa-biasa saja sepertiku. Maaf, aku datang terlambat.
Maaf atas sikap kekanakanku yang telah
membuatmu marah hingga kita berpisah, cintaku sempurna untukmu tapi tidak diriku. Terima kasih atas segala kebaikan dan kenangan manis
yang telah kamu sumbangkan dalamsetiap senyum yang merekah.Terima kasih telah mengajariku arti patah hati danketulusan cinta yang sesungguhnya.Sekarang, bisa tolong ajari aku melupakanmu?
Terima kasih sudah menyempatkanwaktu untuk bertemu.Aku senang, pertanyaankudi lagu Nadir sudah terjawab.Kau telah melupakanku. Itu katamu.
Bagaimana kata hatimu?
Sekarang giliranku.
“Waktu tidak bisa diulang kembali” itu katamu.”Aku ingin kita kembali” itu kataku.
Kisah cinta kita akhirnya menemukan titik temu: tidak bisa bersatu

1 comment

  1. Have you ever thought about creating an ebook or guest authoring on other blogs? I have a blog based upon on the same information you discuss and would really like to have you share some stories/information. I know my visitors would enjoy your work. If you’re even remotely interested, feel free to shoot me an e mail.|

Leave a Reply

Your email address will not be published.