Poetry

KOPI SUSU

Lagi-lagi sajak ini adalah tulisan beberapa tahun silam, yang telah terposting di blog lama ku yang telah hilang ditelan lupa. Maaf masih belum bisa menyuguhkan sesuatu yang baru. Semoga pembaca baru juga dapat menikmati ramuan kopi susu ku, seperti para pembaca lama ku.

Terdengar seperti sebuah tipuan. Pahit tapi manis. 
Mungkin jika ditambah kismis akan terlihat romantis, 
seperti keindahan kota Paris dan sungai tigris. 
Semua jadi terasa manis. Rasa. Aroma. Berirama.


Aku sungguh iri dengan kopi dan susu yang menyatu, 
tak sekali pun berseteru, apalagi bersekutu.
Manisnya susu membuat kopi lupa akan dirinya yang pahit.
Saling melengkapi dalam rasa dan aroma lalu mencipta irama yang bersahaja.


Seperti dua sisi koin yang ditakdirkan untuk selalu bersama. 
Kenapa kita tidak? Apakah aku tak terlihat seperti susu yang manis?
Atau kah selama ini kau menganggapku layaknya jamu yang terlihat jemu?


Seharusnya aku tidak hanya tahu, tapi juga mengerti. 

Mengerti, bahwa kau telah menjadi kopi susu. 
Dia, wanita cantik yang manis walau tanpa pernis. 
Baiknya tidak hanya di hadapan pengemis. 
Pintarnya tidak hanya seujung penggaris. 
Sungguh, yang sepucuk pun tak ada dalam diriku, 
mungkin itu yang menyebabkan kita tidak bisa menyatu layaknya kopi dan susu.


Hingga sampai saat ini hadirmu masih semu untukku, pun cinta itu masih satu, kamu. 
Andai kamu bisa melihat kamu di mataku, maka saat itulah
 kamu sedang melihat cinta pertamaku. 
Aku, kamu, kita. Bukanlah kopi susu.

 1,098 total views,  1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published.